Pelaksanaan ujian alquran pada tahapan seleksi masuk ini berlangsung secara individual di hadapan penguji atau pengasuh pondok. Calon santri akan diminta membaca beberapa ayat acak dari lembaran yang ditentukan langsung oleh penguji di ruangan. Aspek penilaian tidak hanya bertumpu pada kebenaran bacaan, tetapi juga memperhitungkan adab, ketenangan, serta kelancaran intonasi tilawah.
Ujian keagamaan merupakan salah satu pilar utama dalam menyaring calon peserta didik di sekolah berbasis pesantren terpadu. Sesi pengujian kemampuan membaca Kitab Suci dirancang untuk mengukur tingkat kelancaran, ketepatan makhraj, serta pemahaman dasar ilmu tajwid calon murid baru. Pembacaan yang fasih menjadi indikator kesiapan mental dan spiritual santri dalam mengikuti kurikulum keislaman yang intensif.
Dalam menguji calon peserta, penguji berfokus pada ketepatan pengeluaran huruf dari tempatnya serta panjang pendeknya bacaan mad. Selain itu, calon santri yang mendaftar melalui jalur khusus biasanya diuji daya tangkap memorinya melalui sambung ayat singkat. Penilaian yang menyeluruh membantu pihak sekolah memetakan potensi keagamaan setiap calon anak didik sejak awal.
Persiapan matang di rumah sangat dianjurkan agar anak mampu tampil percaya diri saat berhadapan langsung dengan penguji. Latihan membaca secara rutin dengan memperhatikan tajwid dasar akan sangat membantu mengurangi rasa gugup ketika tes berlangsung. Suasana pengujian sendiri diciptakan secara ramah anak agar peserta dapat mengeluarkan kemampuan terbaiknya tanpa tekanan berlebih.
Bagi pendaftar jalur khusus, pelaksanaan tes pemetaan hafalan menjadi instrumen penting untuk menentukan penempatan kelas tahfiz yang sesuai. Hasil uji kemampuan membaca ini digunakan sebagai acuan dalam menyusun program bimbingan alquran yang proporsional selama masa studi. Setiap santri akan mendapati pendampingan belajar yang disesuaikan dengan tingkat kemampuannya.
Hasil pengujian keagamaan ini pada akhirnya melengkapi gambaran kualifikasi calon santri secara utuh di samping kemampuan akademiknya. Pembentukan karakter berakhlak mulia diawali dari kecintaan dan kebiasaan membaca ayat suci secara benar. Semoga seluruh calon peserta didik dapat melalui proses seleksi ini dengan lancar dan memperoleh hasil yang terbaik.
